
Rodja Official
www.radiorodja.com | www.rodja.tv
Recent Posts
[LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi
Kamis, 26 Desember 2024 M / 24 Jumadil Akhir 1446 H
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/mk-3NazrXA4?si=s9AiUDo8D_AVFUQB
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Kamis, 26 Desember 2024 M / 24 Jumadil Akhir 1446 H
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/mk-3NazrXA4?si=s9AiUDo8D_AVFUQB
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Hukum Merayakan Hari Raya Orang Kafir (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas Rahimahullahu ta'ala)
Islam melarang umatnya untuk memuji atau bahkan membenarkan kepercayaan agama di luar Islam, karena hanya Islam lah satu-satunya yang benar dan diridhai oleh Allah Ta’ala.
Setiap muslim juga harus meyakini bahwasanya ajaran Islam ini sudah sempurna, tidak ada satu pun yang terluput. Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah [5]: 3)
Semua hal yang bisa memasukan kita ke dalam surga sudah dijelaskan oleh Islam, demikian juga seluruh hal yang bisa memasukan kita ke dalam neraka pun sudah diingatkan oleh Islam. Maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk membuat hal-hal baru di dalam Islam, termasuk juga perayaan-perayaan.
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengikuti atau bahkan merayakan perayaan orang-orang kafir. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الله أبدلكم بهما خيرا منهما، عيد الأضحى وعيد الفطر
“Sesungguhnya Allah telah mengganti dua perayaan mereka dengan perayaan yang lebih baik dari perayaan mereka, yaitu idul adha dan idul fithri.” (HR Abu Dawud dan yang lainnya)
Di dalam Islam hanya ada dua perayaan, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. Maka dari itu umat Islam tidak diperbolehkan mengadakan perayaan-perayaan baru atau mengikuti perayaan orang-orang kafir.
sumber rodja.id/21f
Islam melarang umatnya untuk memuji atau bahkan membenarkan kepercayaan agama di luar Islam, karena hanya Islam lah satu-satunya yang benar dan diridhai oleh Allah Ta’ala.
Setiap muslim juga harus meyakini bahwasanya ajaran Islam ini sudah sempurna, tidak ada satu pun yang terluput. Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah [5]: 3)
Semua hal yang bisa memasukan kita ke dalam surga sudah dijelaskan oleh Islam, demikian juga seluruh hal yang bisa memasukan kita ke dalam neraka pun sudah diingatkan oleh Islam. Maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk membuat hal-hal baru di dalam Islam, termasuk juga perayaan-perayaan.
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengikuti atau bahkan merayakan perayaan orang-orang kafir. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الله أبدلكم بهما خيرا منهما، عيد الأضحى وعيد الفطر
“Sesungguhnya Allah telah mengganti dua perayaan mereka dengan perayaan yang lebih baik dari perayaan mereka, yaitu idul adha dan idul fithri.” (HR Abu Dawud dan yang lainnya)
Di dalam Islam hanya ada dua perayaan, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. Maka dari itu umat Islam tidak diperbolehkan mengadakan perayaan-perayaan baru atau mengikuti perayaan orang-orang kafir.
sumber rodja.id/21f
Hadiriah Kajian Ilmiah
Bersama:
Ustadz Dr. Ariful Bahri
(Pengajar Tetap di Masjid Nabawi Kota Madinah Kerajaan Arab Saudi)
Tema: Al-Wafa
(Adab & Akhlak)
Hari: Senin, 22 Jumadal Akhirah 1446 / 23 Desember 2024
Waktu : Ba'da Magrib s.d 20.00 WIB
Tempat : Masjid Jami Al-Barkah Jl. Transyogi Cibubur Cileungsi
Terbuka untuk umum ikhwan & akhwat
Bersama:
Ustadz Dr. Ariful Bahri
(Pengajar Tetap di Masjid Nabawi Kota Madinah Kerajaan Arab Saudi)
Tema: Al-Wafa
(Adab & Akhlak)
Hari: Senin, 22 Jumadal Akhirah 1446 / 23 Desember 2024
Waktu : Ba'da Magrib s.d 20.00 WIB
Tempat : Masjid Jami Al-Barkah Jl. Transyogi Cibubur Cileungsi
Terbuka untuk umum ikhwan & akhwat
💡 Muslim Tidak Merayakan Natal dan Tahun Baru
📍 Kajian Potongan Kitab Al Adabul Mufrod
🎥 Faedah Singkat
🛑 Ikuti dan simak kajian terbaru hanya di RodjaTV saluran tilawah Al-Quran dan Kajian Islam.
🔗 Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
#Tauhid#tahunbaru#KajianSunnah#Ustadzsyafiq #2025 #KajianIslam#Adabulmufrad#faedahsingkat#rodjatv
📍 Kajian Potongan Kitab Al Adabul Mufrod
🎥 Faedah Singkat
🛑 Ikuti dan simak kajian terbaru hanya di RodjaTV saluran tilawah Al-Quran dan Kajian Islam.
🔗 Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
#Tauhid#tahunbaru#KajianSunnah#Ustadzsyafiq #2025 #KajianIslam#Adabulmufrad#faedahsingkat#rodjatv
Menguap adalah sesuatu yang tidak disukai Allah karena, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menguap berasal dari setan. Menguap dapat menimbulkan rasa malas dan kantuk, terutama setelah perut kenyang, meskipun tidak berada di waktu tidur. Jika seseorang menguap saat berada di majelis ilmu atau ketika shalat, hal itu menunjukkan bahwa ia sedang tidak dalam kondisi segar.
Berbeda dengan bersin yang disukai Allah, menguap adalah sesuatu yang dibenci.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahan semampunya.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan tiga tahapan dalam menghadapi menguap, sebuah perbuatan yang tidak disukai Allah ‘Azza wa Jalla. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
Tahapan Pertama: Berusaha menolaknya
Jika merasa akan menguap, seseorang dapat menarik napas dalam-dalam atau bergerak agar perbuatan yang tidak disukai Allah itu tidak terjadi sama dirinya.
Karena Allah tidak menyukai menguap, maka seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya tentu akan mencintai perbuatan yang disukai-Nya dan menjauhi yang tidak disukai-Nya. Oleh karena itu, kita harus berusaha menghindari atau menolak terjadinya menguap.
Tahapan Kedua: Menahan Menguap
Jika seseorang tidak mampu menghindari terjadinya menguap, maka ia hendaknya berusaha menahan agar menguap tersebut tidak terlepas dari dirinya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah di atas.
Usaha untuk menahan menguap ini dapat dilakukan dengan menutup mulut menggunakan kedua bibirnya, atau menahan dengan tangan agar mulut tidak terbuka.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5ji
Berbeda dengan bersin yang disukai Allah, menguap adalah sesuatu yang dibenci.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahan semampunya.” (HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan tiga tahapan dalam menghadapi menguap, sebuah perbuatan yang tidak disukai Allah ‘Azza wa Jalla. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
Tahapan Pertama: Berusaha menolaknya
Jika merasa akan menguap, seseorang dapat menarik napas dalam-dalam atau bergerak agar perbuatan yang tidak disukai Allah itu tidak terjadi sama dirinya.
Karena Allah tidak menyukai menguap, maka seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya tentu akan mencintai perbuatan yang disukai-Nya dan menjauhi yang tidak disukai-Nya. Oleh karena itu, kita harus berusaha menghindari atau menolak terjadinya menguap.
Tahapan Kedua: Menahan Menguap
Jika seseorang tidak mampu menghindari terjadinya menguap, maka ia hendaknya berusaha menahan agar menguap tersebut tidak terlepas dari dirinya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah di atas.
Usaha untuk menahan menguap ini dapat dilakukan dengan menutup mulut menggunakan kedua bibirnya, atau menahan dengan tangan agar mulut tidak terbuka.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5ji
[LIVE] Dapur Sehat Rodja | Mengatasi Kurang Darah
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/l_beDI-8c6g?si=epgHaVLIxx3kD5KH
Rabu, 18 Desember 2024 M / 16
Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/l_beDI-8c6g?si=epgHaVLIxx3kD5KH
Rabu, 18 Desember 2024 M / 16
Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Menjaga lisan kita dari pembicaraan-pembicaraan yang tidak berarti, yang tidak berguna, yang tidak bermanfaat, apalagi yang membebani hisab kita di akhirat kelak. Makanya ada sebuah pesan dari Umar bin Abdul Aziz yang layak untuk kita jadikan nasehat yang bagus untuk kita semuanya, yaitu perkataan beliau:
مَنْ عَدَّ كَلاَمَهُ مِنْ عَمَلِهِ ، قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيْمَا يَعْنِيْهِ
“Barangsiapa yang menghitung perkataannya sebagai bagian dari amalannya, maka perkataannya akan sedikit kecuali dalam perkara-perkara yang penting bagi dia.”
Dan inilah yang seharusnya. Karena amalan kita dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkataan kita dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia adalah amalan. Kalau baik kita mendapatkan pahala, kalau kita baik kita mendapatkan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ganjaran dari perkataan tersebut. Kalau haram, maka kita akan berhadapan dengan tanggung jawab dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Dan adakah sesuatu yang bisa membuat orang tersungkur di neraka, di atas wajahnya, kecuali buah dari lidah mereka?” Ini sabda dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada di rangkaian Arbain Nawawiyah. InsyaAllah nanti kita akan sampai pada hadits itu. Artinya banyak sekali orang yang jatuh di neraka, orang yang menjadi penghuni neraka dan sebabnya adalah karena buah lisan/lidah dia. Dia tidak bisa mengontrol lisannya, tidak bisa menjauhi perkara-perkara yang diharamkan dalam masalah pembicaraan. Maka akhirnya dia menjadi penghuni neraka.
Maka pembicaraan adalah termasuk bagian dari amal yang akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu adalah sesuatu yang sudah jelas, tapi banyak orang lalai dari fakta ini. Banyak orang yang tidak sadar akan fakta ini maka dia tidak mengontrol pembicaraannya. Na’udzubillahi min dzalik..
baca selengkapnya di rodja.id/2l4
مَنْ عَدَّ كَلاَمَهُ مِنْ عَمَلِهِ ، قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيْمَا يَعْنِيْهِ
“Barangsiapa yang menghitung perkataannya sebagai bagian dari amalannya, maka perkataannya akan sedikit kecuali dalam perkara-perkara yang penting bagi dia.”
Dan inilah yang seharusnya. Karena amalan kita dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkataan kita dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia adalah amalan. Kalau baik kita mendapatkan pahala, kalau kita baik kita mendapatkan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, ganjaran dari perkataan tersebut. Kalau haram, maka kita akan berhadapan dengan tanggung jawab dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Dan adakah sesuatu yang bisa membuat orang tersungkur di neraka, di atas wajahnya, kecuali buah dari lidah mereka?” Ini sabda dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ada di rangkaian Arbain Nawawiyah. InsyaAllah nanti kita akan sampai pada hadits itu. Artinya banyak sekali orang yang jatuh di neraka, orang yang menjadi penghuni neraka dan sebabnya adalah karena buah lisan/lidah dia. Dia tidak bisa mengontrol lisannya, tidak bisa menjauhi perkara-perkara yang diharamkan dalam masalah pembicaraan. Maka akhirnya dia menjadi penghuni neraka.
Maka pembicaraan adalah termasuk bagian dari amal yang akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu adalah sesuatu yang sudah jelas, tapi banyak orang lalai dari fakta ini. Banyak orang yang tidak sadar akan fakta ini maka dia tidak mengontrol pembicaraannya. Na’udzubillahi min dzalik..
baca selengkapnya di rodja.id/2l4
Kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang penuh dengan ujian, dan setiap orang pasti menghadapi kemungkinan terkena musibah. Tidak ada rumah yang hanya dipenuhi kebahagiaan tanpa merasakan kesedihan, dan tidak ada keluarga yang terus-menerus merasakan kesenangan tanpa mengalami ujian. Allah ‘Azza wa Jalla pasti menguji setiap hamba-Nya.
https://rodja.id/5h0
https://rodja.id/5h0
[LIVE] Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, Lc. | Ta'zhimus Sunnah (Pengagungan Terhadap Sunnah)
simak melalui: https://www.youtube.com/live/y8DVyjBYLiI?si=a589POOdNnq77Na-
Sabtu, 14 Desember 2024 M / 12 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah
simak melalui: https://www.youtube.com/live/y8DVyjBYLiI?si=a589POOdNnq77Na-
Sabtu, 14 Desember 2024 M / 12 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah
Faedah Singkat Penuh Manfaat
📜Bahaya Mendengki Bisa Merusak Agama dan Dunia
🎙Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. حفظه اللّٰه تعالى
#faedahsingkat#dengki#sunnah#akal#syirik#iri#sombong#sabar#rodjatvdigital#saudara#tetangga
📜Bahaya Mendengki Bisa Merusak Agama dan Dunia
🎙Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. حفظه اللّٰه تعالى
#faedahsingkat#dengki#sunnah#akal#syirik#iri#sombong#sabar#rodjatvdigital#saudara#tetangga
[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Minhajul Qashidin
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/jDq9ZBx_qRI?si=QVGU_PQrklDzGU3U
Kamis, 12 Desember 2024 M / 10 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/jDq9ZBx_qRI?si=QVGU_PQrklDzGU3U
Kamis, 12 Desember 2024 M / 10 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
🔴LANGKAH PERTAMA, MENCONTOHKAN SIFAT AMANAH
👤Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
Agar anak-anak memiliki sifat amanah sehingga kelak, insyaAllah, jika menjadi pejabat, mereka tidak akan tergoda untuk korupsi, maka langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mencontohkan sifat amanah. Siapa yang harus memberi contoh? Tentu orang tuanya.
Bagaimana mungkin orang tua bisa mengajarkan anak sifat amanah jika dirinya sendiri tidak amanah? Bagaimana seorang ibu memotivasi anak perempuannya untuk menutup aurat dan memakai jilbab jika ibunya sendiri tidak berjilbab?
Jika kita ingin anak-anak kita menjadi baik, maka mulailah dari orang tua. Sebab, anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya, baik itu hal baik maupun buruk.
Misalnya, jika ada anak yang terus-menerus bermain ponsel tanpa mengenal waktu—saat waktu shalat, tidur, atau mengaji—siapa yang menjadi contoh bagi anak tersebut? Kemungkinan besar, anak itu meniru kebiasaan salah satu atau bahkan kedua orang tuanya.
Maka, orang tua memiliki tanggung jawab moral yang besar. Jika ingin anak-anak menjadi shalih, ayah harus menjadi sosok yang shalih, dan ibu harus menjadi sosok yang shalihah.
Kembali kepada sifat amanah, jika kita ingin anak-anak memiliki sifat mulia ini, maka orang tua juga harus bersikap amanah. Dalam hal apa? Dalam semua aspek kehidupan. Sebab, sifat amanah sangat diperlukan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5jb
👤Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
Agar anak-anak memiliki sifat amanah sehingga kelak, insyaAllah, jika menjadi pejabat, mereka tidak akan tergoda untuk korupsi, maka langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mencontohkan sifat amanah. Siapa yang harus memberi contoh? Tentu orang tuanya.
Bagaimana mungkin orang tua bisa mengajarkan anak sifat amanah jika dirinya sendiri tidak amanah? Bagaimana seorang ibu memotivasi anak perempuannya untuk menutup aurat dan memakai jilbab jika ibunya sendiri tidak berjilbab?
Jika kita ingin anak-anak kita menjadi baik, maka mulailah dari orang tua. Sebab, anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya, baik itu hal baik maupun buruk.
Misalnya, jika ada anak yang terus-menerus bermain ponsel tanpa mengenal waktu—saat waktu shalat, tidur, atau mengaji—siapa yang menjadi contoh bagi anak tersebut? Kemungkinan besar, anak itu meniru kebiasaan salah satu atau bahkan kedua orang tuanya.
Maka, orang tua memiliki tanggung jawab moral yang besar. Jika ingin anak-anak menjadi shalih, ayah harus menjadi sosok yang shalih, dan ibu harus menjadi sosok yang shalihah.
Kembali kepada sifat amanah, jika kita ingin anak-anak memiliki sifat mulia ini, maka orang tua juga harus bersikap amanah. Dalam hal apa? Dalam semua aspek kehidupan. Sebab, sifat amanah sangat diperlukan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5jb
SHALAT DI RUMAH SAAT HUJAN
Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Hujan termasuk rukhshah (keringanan) yang memperbolehkan seseorang untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Namun, tidak setiap hujan memberikan rukhshah tersebut. Kebanyakan ulama menyatakan bahwa hujan yang menyebabkan masyaqqah (kesulitan) adalah yang dimaksud. Adapun jika hujannya ringan dan tidak menyulitkan, maka tetap dianjurkan untuk shalat berjamaah di masjid.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa ia mengumandangkan adzan shalat pada suatu malam yang dingin, berangin, dan hujan. Ia berkata di akhir adzannya:
أَلَا صَلُّوا في رِحَالِكُمْ أَلَا صَلُّوا في الرِّحَالِ
“Ketahuilah, shalatlah di rumah masing-masing! Ketahuilah, shalatlah di rumah masing-masing!”
Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan muadzin, jika pada malam hari terdapat cuaca dingin atau hujan dalam perjalanan, untuk mengatakan:
أَلَا صَلُّوا في رِحَالِكُمْ
‘Ketahuilah, shalatlah di tempat tinggal kalian masing-masing!'” (HR. Muslim)
selengkapnya: https://rodja.id/5j9
Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.
Hujan termasuk rukhshah (keringanan) yang memperbolehkan seseorang untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Namun, tidak setiap hujan memberikan rukhshah tersebut. Kebanyakan ulama menyatakan bahwa hujan yang menyebabkan masyaqqah (kesulitan) adalah yang dimaksud. Adapun jika hujannya ringan dan tidak menyulitkan, maka tetap dianjurkan untuk shalat berjamaah di masjid.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa ia mengumandangkan adzan shalat pada suatu malam yang dingin, berangin, dan hujan. Ia berkata di akhir adzannya:
أَلَا صَلُّوا في رِحَالِكُمْ أَلَا صَلُّوا في الرِّحَالِ
“Ketahuilah, shalatlah di rumah masing-masing! Ketahuilah, shalatlah di rumah masing-masing!”
Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan muadzin, jika pada malam hari terdapat cuaca dingin atau hujan dalam perjalanan, untuk mengatakan:
أَلَا صَلُّوا في رِحَالِكُمْ
‘Ketahuilah, shalatlah di tempat tinggal kalian masing-masing!'” (HR. Muslim)
selengkapnya: https://rodja.id/5j9
📺JANGAN MERASA BERJASA DALAM BERIBADAH
🔊Ustadz Dr. Anas Burhanuddin, M.A.
Jangan pernah merasa berjasa saat menjalankan suatu ibadah. Sebaliknya, ingatlah bahwa keberhasilan kita melaksanakan ibadah adalah karena pertolongan Allah.
Kita ini sangat lemah. Bahkan ketika kita telah menyelesaikan 80% atau 90% dari suatu ibadah, misalnya puasa, tidak ada jaminan kita bisa menyelesaikannya. Bisa saja di 10% atau 20% terakhir, kita tiba-tiba lemas dan tidak mampu melanjutkannya. Selemah itu diri kita, dan sebesar itu pula jasa Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. لَا حَوۡلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah).
Oleh karena itu, kita harus selalu ingat bahwa dalam setiap ibadah ada jasa dan anugerah dari Allah yang tidak boleh kita lupakan.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka (orang-orang munafik) merasa telah berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah (Muhammad), ‘Janganlah kalian merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Tapi ingatlah bahwa Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang jujur (dalam perkataan).'” (QS. Al-Hujurat [49]: 17)
Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang munafik yang merasa berjasa kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena mereka telah masuk Islam. Mereka sering mengungkit-ungkit jasa dan kebaikan mereka terhadap Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sikap ini diingkari oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui turunnya ayat ini.
Dari ayat ini, kita diajarkan bahwa semua nikmat, termasuk hidayah untuk beriman dan beribadah, berasal dari Allah. Jangan pernah merasa berjasa atas amal yang kita lakukan, melainkan syukurilah nikmat-Nya yang memungkinkan kita untuk beribadah. Semua ini adalah karunia dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download kajia ini dalam format rekaman melalui: https://rodja.id/5j3
🔊Ustadz Dr. Anas Burhanuddin, M.A.
Jangan pernah merasa berjasa saat menjalankan suatu ibadah. Sebaliknya, ingatlah bahwa keberhasilan kita melaksanakan ibadah adalah karena pertolongan Allah.
Kita ini sangat lemah. Bahkan ketika kita telah menyelesaikan 80% atau 90% dari suatu ibadah, misalnya puasa, tidak ada jaminan kita bisa menyelesaikannya. Bisa saja di 10% atau 20% terakhir, kita tiba-tiba lemas dan tidak mampu melanjutkannya. Selemah itu diri kita, dan sebesar itu pula jasa Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. لَا حَوۡلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah).
Oleh karena itu, kita harus selalu ingat bahwa dalam setiap ibadah ada jasa dan anugerah dari Allah yang tidak boleh kita lupakan.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka (orang-orang munafik) merasa telah berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah (Muhammad), ‘Janganlah kalian merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Tapi ingatlah bahwa Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang jujur (dalam perkataan).'” (QS. Al-Hujurat [49]: 17)
Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang munafik yang merasa berjasa kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena mereka telah masuk Islam. Mereka sering mengungkit-ungkit jasa dan kebaikan mereka terhadap Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sikap ini diingkari oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui turunnya ayat ini.
Dari ayat ini, kita diajarkan bahwa semua nikmat, termasuk hidayah untuk beriman dan beribadah, berasal dari Allah. Jangan pernah merasa berjasa atas amal yang kita lakukan, melainkan syukurilah nikmat-Nya yang memungkinkan kita untuk beribadah. Semua ini adalah karunia dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download kajia ini dalam format rekaman melalui: https://rodja.id/5j3
[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/jKA-gbwhecY?si=kV7oqlpqy3fHcoIj
Ahad, 8 Desember 2024 M / 6 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/jKA-gbwhecY?si=kV7oqlpqy3fHcoIj
Ahad, 8 Desember 2024 M / 6 Jumadil Akhir 1446 H
_________________
#Menebar#Cahaya#sunnah#MenebarCahayaSunnah#Live#Ceramah#Kajian#Islam#Ilmiyah#KajianIslam#KajianIlmiyah#Rodja#rodjatv
MELATIH ANAK UNTUK BERUSAHA
Melatih anak untuk berusaha adalah bagian penting dari menanamkan sifat tawakal. Tawakal bukan hanya sekadar menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga harus diawali dengan ikhtiar. Anak perlu memahami bahwa segala sesuatu tidak datang secara instan, melainkan melalui proses. Jika tidak, ia akan tumbuh menjadi anak yang manja, selalu mengharapkan apa yang diinginkan tanpa usaha.
Hal ini sangat penting, terutama bagi anak laki-laki, karena mereka kelak akan menjadi pemimpin rumah tangga. Oleh karena itu, proses melatih anak untuk berusaha perlu dimulai sejak dini, khususnya di masa remaja. Dalam hal ini, dukungan orang tua sangat diperlukan.
Sebelumnya, kita telah membahas bagaimana anak harus diajarkan keberanian untuk mengambil keputusan. Bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan memahami hal ini adalah bagian dari pembelajaran hidup. Dalam mewujudkan keinginan, anak harus diajarkan untuk berusaha dan bekerja keras.
Dalam hal ini, kita bisa merujuk pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ
“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini terdapat tiga poin penting yang harus ditanamkan kepada anak. Pertama, berusaha meraih apa yang bermanfaat. Kedua adalah melatih anak untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Anak harus diajarkan untuk menggantungkan hatinya kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam dunia yang dipenuhi hal-hal materialistis seperti saat ini, keimanan terhadap perkara ghaib sering kali terabaikan, kalah oleh keyakinan terhadap perkara nyata yang tampak. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan keterkaitan hati anak dengan Allah sejak dini.
Sebesar apa pun usaha yang dilakukan, tetap diperlukan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat diwujudkan melalui doa, dzikir, dan tadabbur terhadap ayat-ayat Allah. Anak harus diajarkan untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah kehidupannya.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5j2
Melatih anak untuk berusaha adalah bagian penting dari menanamkan sifat tawakal. Tawakal bukan hanya sekadar menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga harus diawali dengan ikhtiar. Anak perlu memahami bahwa segala sesuatu tidak datang secara instan, melainkan melalui proses. Jika tidak, ia akan tumbuh menjadi anak yang manja, selalu mengharapkan apa yang diinginkan tanpa usaha.
Hal ini sangat penting, terutama bagi anak laki-laki, karena mereka kelak akan menjadi pemimpin rumah tangga. Oleh karena itu, proses melatih anak untuk berusaha perlu dimulai sejak dini, khususnya di masa remaja. Dalam hal ini, dukungan orang tua sangat diperlukan.
Sebelumnya, kita telah membahas bagaimana anak harus diajarkan keberanian untuk mengambil keputusan. Bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan memahami hal ini adalah bagian dari pembelajaran hidup. Dalam mewujudkan keinginan, anak harus diajarkan untuk berusaha dan bekerja keras.
Dalam hal ini, kita bisa merujuk pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ
“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah.” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini terdapat tiga poin penting yang harus ditanamkan kepada anak. Pertama, berusaha meraih apa yang bermanfaat. Kedua adalah melatih anak untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Anak harus diajarkan untuk menggantungkan hatinya kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam dunia yang dipenuhi hal-hal materialistis seperti saat ini, keimanan terhadap perkara ghaib sering kali terabaikan, kalah oleh keyakinan terhadap perkara nyata yang tampak. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan keterkaitan hati anak dengan Allah sejak dini.
Sebesar apa pun usaha yang dilakukan, tetap diperlukan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini dapat diwujudkan melalui doa, dzikir, dan tadabbur terhadap ayat-ayat Allah. Anak harus diajarkan untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah kehidupannya.
Simak selengkapnya: https://rodja.id/5j2